Rabu, 30 November 2016

aku kamu dan dia

Sore yang indah dengan paparan cahaya senja yang menyinari. Saat itu di lapangan, Aldi sedang asyik latihan bermain bola bersama teman-temannya. Sambil istirahat dan sesekali meneguk air yang sudah dibawanya dari rumah. Bersamaan dengan itu Yoga sedang jalan-jalan di sebuah taman sambil menikmati senja di sore itu. Taman itu memang banyak diminati orang-orang karena terdapat sebuah danau yang airnya jernih sehingga menambah kesan suasana yang indah dan sejuk di sana. Yoga sesekali mengarahkan kameranya ke tempat-tempat yang menurutnya menarik sambil melihat hasilnya dan kembali mengulang hal yang sama terus-menerus.
Yoga memang mempunyai hobi yang beda dengan sahabatnya Aldi, dia lebih suka photography dibandingkan bermain bola menurutnya itu banyak membuang-buang tenaga. Meskipun kadang Yoga sering menemani Aldi latihan, dia hanya memperhatikan sahabatnya itu latihan saja dan sekedar hanya untuk mengisi waktu luangnya.
Sambil asyik berjalan, handphone Yoga pun berbunyi. Tiitt… tiitt.. tiitt.. “Halo Aldi, ada apa?”. “Yoga kamu lagi dimana sekarang?”. “Oh, aku lagi di taman nih biasa cari momen yang indah, hehe maaf yah aku enggak ikut nemanin kamu latihan hari ini!”.
“Ohh gitu, iya enggak apa-apa kok aku Cuma mau mastiin kamu dimana. Ya udah kamu lanjutin aja kegiatanmu aku juga mau lanjut latihan nih, ok bye”.
“ok”
Telepon berhenti dan Yoga kembali memasukkan handphonennya ke saku celananya.
“Hmm hari ini belum ada momen yang menarik untuk kufoto” gumamnya sambil terus melihat hasil gambarnya. Saat Yoga hendak kembali mengambil gambar, dia terfokus pada seorang wanita yang duduk di tepi danau sambil membaca buku dan mendengarkan musik. “Crat…” Yoga pun berhasil mengabadikan gambar sosok perempuan itu meskipun tanpa sengaja. “Eh.. cewek itu siapa yah kayaknya baru lihat dia deh di sekitar sini, hmm” gumamnya. Yoga kembali memperhatikan wanita itu, meskipun dia hanya bisa melihatnya dari satu arah saja.
Tanpa sadar Aldi pun datang dan mengagetkan Yoga. “Woi.. gimana nih hasil gambarnya?” sambil menepuk pundak Yoga. “Eh.. kamu bikin aku kaget saja” ucapnya sambil mengelus dada. “hehe maaf soalnya kamu serius banget sihh, oya gimana hasilnya aku mau lihat dong” ucap Aldi. “Oh iya nih lihat saja” sambil menyerahkan kameranya. “Wah hasilnya bagus-bagus yah, kamu memang berbakat jadi photografer sobat” sambil mengacungkan jempol. “Haha iya dong”. “Ehh cewek ini siapa?” sambil memperlihatkan kameranya pada Yoga. “Eh ini bukan siapa-siapa kok cuma kebetulan aja, aku juga enggak tahu dia siapa” sambil merebut kameranya kembali. “Ya udah yuk kita pulang aja udah hampir malam nih” sambung Yoga. “hmm gitu, ok yuk!”.
Sehabis mandi Yoga kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. “hmm besok udah hari senin yah, minggunya cepat sekali berlalu huft” gumamnya. Sambil sibuk memainkan handphonennya, Yoga teringat dengan wanita yang sore tadi di taman. Sambil meletakkan handpohennya dia meraih kameranya dan melihat kembali foto-foto tadi sambil terus memperhatikan dengan seksama dan sesekali memperbesar tampilan gambarnya. “Aku penasaran dengan cewek ini, eh ngapain aku peduli yah hmm mending aku tidur hari ini lelah sekali besok udah sekolah aja” sambil meletakkan kembali kameranya di atas meja.
Keesokan harinya Yoga bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah sambil meraih ranselnya. “Aku ke sekolah dulu yah bu” sambil meraih sepotong roti coklat dan mencium tangan ibunya lalu berangkat. Sementara di luar rumah Yoga, Aldi sedang menunggunya sambil duduk di atas motor Aldi. Motor pun melaju dengan cepat ke sekolah. Yoga dan Aldi sekolah di SMA Nusa Bangsa di Bandung yang letaknya lumayan jauh dari rumah mereka. Tahun ini mereka sudah kelas tiga, Yoga kelas 3B sedangkan Aldi 3C. Setiap hari mereka hanya mengendarai motor secara bergiliran, tergantung siapa yang selesai duluan maka dialah yang memakai motornya dan menjemput satu sama lain. Yoga dan Aldi memang satu sekolahan tetapi mereka beda kelas, meskipun kelas mereka tetanggaan.
Mereka pun berpisah dan masuk ke kelas masing-masing. “Yoga duduk di bangku ke tiga bersama temannya Rudi dan berusaha mengatur napasnya. Tidak lama kemudian bel berbunyi tanda pelajaran pertama akan di mulai. “Tumben guru kita kali ini masuknya lama biasanyakan tepat waktu” ucap Rudi. “Hmm mungkin enggak masuk kali” jawab Yoga cuek. Selang lima belas menit berlalu guru mereka sudah datang diikuti oleh seorang siswi. “Selamat pagi anak-anak” sapa Ibu Susi. “Selamat pagi bu” jawab siswa serentak. “Sebelumnya ibu minta maaf karena terlambat masuk, oya pasti kalian bertanya-tanya dengan siapa ibu datang. Ok langsung saja dia ini namanya Lisa, siswa baru di kelas kita pindahan dari Jakarta dan ibu harap kalian semua bisa berteman baik dengannya” ucapnya panjang lebar.
Lisa lalu duduk dan langsung di sapa oleh Ririn. Sedangkan Yoga sedari tadi tidak memperhatikan dia hanya sibuk mencoret-coret di bukunya. “Eh Yoga ada murid baru tuh” ucap Rudi sambil berbisik. “Hmm iya aku dengar kok yang Ibu bilang” masih asyik dengan aktivitasnya. “Tapi kan kamu belum lihat orangnya, dia manis loh” ucap Rudi merayu. “Masa sih mana coba mana” sambil menatap seluruh ruangan kelas. “Eh enggak usah kejauhan lihatnya tuh dia duduk di depan” sambil mengarahkan kepala Yoga ke arah depan. Yoga pun memperhatikan Lisa, “Eh dia, sepertinya aku pernah lihat dimana yah” gumamnya. “Gimana maniskan?” ucap Rudi. “Biasa aja, udah ah aku mau lanjut gambar dulu” ucapnya sambil kembali meraih pulpennya. “Ish kamu nih enggak ada pekanya, nanti jomblo terus loh” ejek Rudi. “Biarin deh” jawabnya singkat. Pelajaran pun berlanjut dan akhirnya bel istirahat berbunyi.
“Wah sudah istirahat yah” ucap Aldi bersemangat dia langsung pergi ke kelas Yoga untuk mengajaknya. Saat di pintu kelas mereka berpapasan dengan Lisa dan Ririn. Mereka lama saling memperhatikan terutama Aldi “Ehh ada cewek cantik, hehe silahkan lewat tuan putri” ucapnya ramah. “Ish kamu lebay banget sih giliran lihat cewek aja gitu, yuk ke kantin” sambil menarik lengan Aldi. Lisa dan Ririn hanya tersenyum.
Sementara di perjalan menuju kantin Aldi terus berceloteh panjang lebar. “Eh Yoga kamu punya teman sekelas cantik-cantik kenalin dong” rengek Aldi. “Enggak ah kamu aja sendiri, lagian kamu kan populer di sini banyak yang suka tuh liat aja di sekelilingmu cewek terus memperhatikan dan memanggil-manggil namamu” ucap Yoga santai. “Eh mungkin maksud kamu kita berdua yang populer di sekolah ini sobat” ucapnya sambil tertawa. “Terserah kamu deh” ucap Yoga. Yoga dan Aldi memang terkenal dengan ketampanan wajah mereka dan mereka berdua aktif di kegiatan ekstrakulikuler hal itu pula yang menambah kepopulerannya di sekolah sehingga banyak wanita yang selalu ingin dekat dengannya.
Meskipun bersahabat Yoga dan Aldi memiliki sifat yang berbeda. Aldi lebih suka menggonta-ganti pacarnya tiap minggu, dia memang playboy tapi meskipun begitu tetap saja banyak yang tertarik dengannya bahkan ada yang rela jadi selingkuhannya. Sedangkan Yoga terkenal dengan kejombloannya, karena dia tidak pernah terlihat dekat dengan seorang wanita pun, meskipun banyak juga yang mengejar-ngejarnya dan mencari perhatiannya tapi dia hanya cuek dan tidak peduli dengan semua itu.
Sesampai di kantin mereka masing-masing memesan makanan kesukaannya. “Oh iya Yoga, yang cewek tadi itu siapa kayaknya aku baru lihat?” ucap Aldi sambil meneguk minumannya. “Yang mana?” sambil mengunyah makanannya. “Itu yang ketemunya depan pintu kelasmu” ucap Aldi. “Oh Ririn yah” ucapnya santai. “Bukan, kalo Ririn kan aku sudah tahu yang sebelahnya itu loh” ucapnya penasaran. “Hmm, oh kalau enggak salah namanya Lisa dia murid baru di kelasku, memangnya kenapa?” jawab Yoga. “Dia manis loh, memangnya kamu tidak tertarik dengannya?” goda Aldi. “Bilang aja kalau kamu yang naksir sama dia, jangan bilang kalau kamu mau nembak dia juga duh dia masih baru di sini kamu enggak kasian apa kamu jadiin dia korban juga” ucap Yoga. “Siapa yang jadiin korban sih, lagi pula cewek mana yang tidak tertarik sama Aldi yang gagah ini, haha” ucapnya. “Terserah kamu deh” jawabnya cuek sambil tetap mengunyah makanannya.
Seiring berjalannya waktu Yoga dan Lisa sudah mulai saling mengenal karena Lisa juga mengambil kegiatan ekstrakulikuler yang sama dengan Yoga. Sedangkan Aldi terus-terusan membujuk Yoga untuk membuatnya bisa dekat dengan Lisa. “Yoga bantuin aku dong dekatin Lisa” ucapnya memohon. “Kamu apaan sih, bukannya tidak ada wanita yang tidak bisa kamu dekatin kok sekarang malah rengek minta di bantuin” ucap Yoga santai. “Tapi Lisa itu beda dengan cewek yang lain yang pernah kutemui, sepertinya aku benar-benar menyukainya” ucapnya yakin. “Deg.. aku kenapa yah kok merasa cemburu kayak gini, apa mungkin? ah tidak tidak boleh” gumamnya dalam hati.
Lisa telah lama menyukai Yoga namun dia tidak berani mengungkapkannya. Begitu pun dengan Yoga dia mulai merasa hal yang berbeda saat bertemu dengan Lisa. Ternyata mereka punya rasa yang sama tapi mereka malu mengungkapkannya. Yoga berusaha membantu Aldi untuk mendekati Lisa, meskipun itu terasa menyakitkan untuknya. Tapi dia lebih mementingkan perasaan sahabatnya dibandingkan perasaannya sendiri.
Tidak butuh waktu yang lama Aldi dan Lisa sudah sangat dekat. Aldi selalu mengajak Lisa jalan meskipun belum ada kepastian dalam hubungan mereka. Aldi menunggu momen yang tepat untuk menyatakan cintanya pada Lisa. Dia merencanakannya bersama Yoga. “Ok besok aku akan nembak Lisa di taman belakang sekolah” ucap Aldi mantap. “Iya semoga berhasil yah” ucap Yoga. Kali ini Yoga benar-benar harus menahan perasaannya. Dia mulai membayangkan jika Aldi dan Lisa jadian, mereka pasti akan terus bertemu dan hal itu akan membuatnya makan hati.
“Lis, aku.. aku mau bilang sesuatu ke kamu” ucap Aldi sedikit gugup. “Iya bilang aja” ucap Lisa santai. “Kamu mau enggak jadi pacar aku?” ucapnya. Hal itu sontak membuat Lisa sedikit terkejut “Apa kamu nembak aku?” Ucap Lisa. “Iya Lis, aku serius” ucap Aldi berusaha meyakinkan Lisa. Di sisi lain Yoga sedang mengintip di balik tembok yang jaraknya lumayan jauh sehingga Yoga tidak bisa mendengar percakapan mereka. “Mereka ngomong apaan aja sih” gumamnya.
Yoga saat itu pulang duluan ke rumahnya, dia merasa lelah. Mungkin lelah hati, dia berusaha untuk tidak peduli dengan kelanjutan hubungan Aldi dan Lisa. Meskipun dia sendiri belum tau kepastiannya tapi Yoga menganggap bahwa Lisa pasti menerima Aldi. Kini Yoga berusaha melupakan perasaannya bahwa ia pernah menyukai Lisa walaupun itu sulit.
Saat di sekolah Yoga sibuk menata kamera yang ada di lemari kaca, tiba-tiba Lisa muncul. “Hai Yoga” sapanya. “Iya hai” ucapnya cuek. Yoga tanpa melihat Lisa langsung keluar dari ruangan. “Yoga tunggu” panggil Lisa. “Ada apa” jawab Yoga. “Kamu kok beda banget hari ini, tidak biasanya kamu cuekin aku” ucap Lisa bertanya-tanya. “Oh itu cuma perasaan kamu saja kok, oh iya kamu enggak jalan bareng sama Aldi yah kirain kalian berdua udah jadian. Aku mau ke kantin, duluan yah” ucapnya sambil berlalu. Lisa terdiam sejenak menahan rasa kecewanya “Aku enggak jadian sama siapa pun” ucapnya sedikit berteriak. Yoga menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Lisa. “Maksudmu?” ucap Yoga heran. “Iya itu karena aku suka sama kamu Yoga bukan Aldi, kenapa kamu tidak mengerti juga hah” ucapnya matanya pun mulai berkaca-kaca.
Yoga kini terdiam mendengar ucapan Lisa tanpa bisa berkata-kata. Lisa pun berlari kembali ke kelas dan berusaha menahan air matanya. “Apa yang aku lakukan” ucap Yoga dalam hati.

cerita cinta di akhir putih biru

“Wuahh… sebentar lagi bakalan ada acara perpisahan. Pasti kita semua pada beda sekolah. Aku terkadang benci itu” kata Cila malas. “Setiap ada pertemuankan pasti ada perpisahannya La. Kalo kamu gak mau ada perpisahan, gak usah ketemu sama orang deh.” Cila tersenyum tipis mengingat perkataan temannya tadi. Benar juga ya, dia bakalan berpisah sama teman-teman seperjuangannya. Menanggalkan baju putih birunya dan mengenakan putih abu-abu.
Senja merebak menyilaukan mata jernihnya. Cila menatap ruang-ruang kelas di sekolahnya dari kejauhan. Dia pasti akan merindukan itu. Semua tangis, tawa, bosan, hambar, masih tersimpan jelas di ingatannya. Suara tawa temannya membuyarkan lamunannya. Salah satunya lelaki yang belakangan ini disukainya karena guru dan temannya mencomblangkan mereka. Dia tersemyum lagi. Sosok itu memiliki sifat yang sesukanya dan pastinya keren.
“Pagi guys!!!” Cila tersenyum senang menyapa teman-temannya yang lagi sibuk. Pasti sibuk mengerjakan PR. ‘Tapi, PR apa ya’ batin Cila berkata. “Cila, kamu udah siap?” Cila terkejut sama pertanyaan Nesa. “PR apa?” “Ya ampun, Cila!!! PR BIologi!” “Haaaa!!!” Cila langsung duduk di kursinya membuka lembar buku Biologinya. ‘OMG!!!’ batinnya berkata lagi. “Nesa, pinjem dong, cepet-cepet” kata Cila gusar. Nesa tersenyum melihat kelakuan temannya itu.
Nomor demi nomor telah dia isi. ‘Kok bisa kelupaan sih’ batin Cila nyela. “Hey!!! Apa-apaan ini, kalian ngerjain PR di sekolah!!” suara melengking Bu Rini mengejutkannya dan temannya. Sigap semua memasukkan LKS Biologinya ke tas. Dan pura-pura sibuk. Termasuk Cila. Yang tiba-tiba tertawa pada Nesa. Namun Nesa bingung, lalu Cila mengedip-ngedipkan matanya, dan keduanya tertawa bersama tanpa ada yang lucu. Sampai pulpen yang dipegangnya tadi tak sengaja mengenai kaki kaki sosok yang dikaguminya. Cila terkejut dan sedikit gugup. “Oh Myyy, sorry ya, sakit gak?” Tanya Cila sedikit takut. “Sakit, sakit banget” kata sosok itu sambil memperagakan muka yang kesakitan. “Muka kamu lucu” Cila tertawa. Dia tahu itu hanya pura-pura. Sosok itu akan jadi yang dirindukannya. Semua tentangnya, sengaja Cila simpan sendiri.
Ini kali kedua dia menyukai pria itu. Senyumnya selalu bisa membuat jantung Cila berdegup kencang. Rasanya, dari dulu sampai sekarang detak jantungnya tetap sama ketika berada di dekat sosok itu. Andai saja keduanya dulu menjalin komunikasi yang baik, tidak akan berakhir cerita tentang mereka. Kini, dia tak mau ada yang tahu. Dia terkadang sedikit sebal. Dia dianugrahi rasa ini lagi ketika masa SMP akan berakhir. Cila tahu, kalau sosok itu akan melanjutkan pendidikannya di luar kota. Cila tahu semua itu. Oleh karena itu, dia tak mau ada yang tahu bahkan sosok itu sekalipun. Lagian, Cila selalu ingat pesan mamanya, Cila harus fokus sama ujian-ujiannya. Segala yang gak ada sangkutannya sama ujian harus dibuang. Cila ingat betul itu. Meski jika melihat sosok itu, Cila tersenyum sendiri.
Karena cintanya tumbuh diakhir masa putih biru.

masih disini menantimu

Cinta, kesan kuat bermakna dua anak manusia yang sama-sama punya perasaan kuat untuk saling memiliki. Unik memang. Banyak hal dapat dimiliki dengan cara mengeluarkan uang tetapi tidak untuk beberapa hal dan salah satunya adalah cinta. Bahkan kadangkala hati bisa dengan mudah diperdaya oleh akal pikiran tapi cinta sejati tentu akan selalu berpihak kepada jiwa-jiwa yang senantiasa mencarinya dan sebagian besar siap menunggu.
Aku tersenyum pahit melihat hasil ulangan harianku tidak begitu memuaskan. Padahal aku berharap meraih nilai matematika lebih memuaskan di semester genap ini. “Matematika memang sulit!” gerutuku sendu. Kusimpan lembaran kertas itu dalam buku pelajaran matematika serapi mungkin, nyaris utuh tanpa koyakan tapi na’as, kertas ulanganku disambar kasar oleh Amel, teman yang duduk di sampingku menghapus gelar kerapihan dari kertas tersebut.
“7.85 lumayan lah buat pecinta sejarah kaya lo” ucap Amel
“Hahaa… Kamu bisa aja, Mel” aku tersenyum kecil mendengarnya.
“Benar juga sih! Aku kan nggak sejago si musuh bebuyutanku itu.” ucapku pelan. Spontan.
“Apa! Musuh Bebuyutan, siapa?”
“Emangnya kamu punya musuh bebuyutan, Al?” tanya Amel antusias.
“Ng.. Nggak kok. Kamu salah dengar kali, masa iya seorang Alissa Welmy punya musuh. Apa kata nenek kamu coba! Hahaa..” sanggahku cepat berusaha menutup rasa gugup dan seberkas rindu yang perlahan merambat hati.
Amel melihatku sebentar kemudian beranjak ke bangku barisan depan untuk melanjutkan aktifitas bergosip ria bersama Fifit dan Ayra. Aku mengusap wajahku yang berkeringat dengan selembar tissu, oh Tuhan bahkan aku masih memikirkan dirinya sampai sekarang. Semakin dicoba, semakin sulit melepas sepotong kisah cukup manis bersama dengan dia di bangku sekolah dasar. Iya, dia adalah musuh bebuyutanku yang cukup mengerti semua keinginan si matematika, pelajaran kategori killer bagi diriku. Terlepas dari semua itu, aku punya harapan besar yaitu bisa meraih hasil maksimal pada saat penerimaan laporan pendidikan nanti.
Liburan berakhir sudah, kami satu kelas VII kini resmi menjadi VIII A, dan hal yang paling menyenangkan adalah kami digelari senior oleh calon siswa siswi SMPN I Telutih. Aku tersenyum riang melangkah ke sekolah, selain karena aku meraih hasil maksimal ketika pembagian rapor, aku juga tidak sengaja mendengar bahwa si musuh bebuyutanku itu bersekolah di SMP ini dari percakapan antara Amel dan Ryen. Meskipun aku sama sekali belum pernah bertemu dengannya tapi, entah mengapa dalam hal ini hatiku tidak sejalan dengan logikaku yang menyimpulkan bahwa dia tidak mungkin satu sekolah denganku. Bersama teman-teman sepermainan, kami sekelas menyiapkan berbagai hal konyol untuk siswa siswi baru itu. Tapi sayang tidak terlaksana ketika hari H-nya karena perploncoan ditiadakan oleh Bapak Kepala Sekolah. Setelah pengukuhan calon siswa siswi SMP N I Telutih menjadi siswa siswi sah itulah cerita kami dimulai.
Hari ini bakti sosial di sekolah, artinya kami bisa bermain seharian setelah bersih-bersih ruangan guru, kelas, kantor kepsek, perpustakaan, toilet, taman, dan lain-lain. Yup! Namanya juga baksos, otomatis kebersihan mesti diterapkan.
“Alis, ke kelas 7 yuk!” ajak Rysmy yang tiba-tiba muncul di sampingku.
“Masih capek. Kamu aja deh.” tukasku, masih menatap lapangan luas nan hijau dari emper kelas.
“Ih, ayo.. Mereka itu lagi latihan nyanyi gitu pake pianika. Keren loh, yuk!” ujar Rysmy seraya menarikku supaya berdiri.
“Baiklah, baiklah. Kita go!”
“Nah, gitu dong!”
Rysmy masih setia menggandeng erat lenganku. Kami berdua menatap Harrys, junior yang terlihat kewalahan mencoba memainkan alat musik tiup yang satu itu. Aku terkekeh kecil demi melihat wajah kusutnya.
“Eh, Alis. Kamu katanya jago main ini ya.. Cobain dong.” ucap Harrys merdu.
“Ng.. Aku..”
“Iya, dia bisa kok.” belum sempat kutolak permintaan si Harrys, Rysmy telah lebih dulu menyela rancangan pembelaan dariku.
Si Harrys, mantan teman sekelasku semasa SD tersenyum manis. Kami dulu sekelas, bersama-sama musuh bebuyutanku tapi tidak lagi, aku senior sekarang setelah mengikuti serangkaian tes program akselerasi. Aku lebih dulu lulus sekolah dasar.
“Ayoo…” ucap Rysmy, ia menuntunku duduk di kursi yang tadi Harrys duduki.
Kutatap alat musik itu tanpa ekspresi. Miris. Tiba-tiba aku melihat dia, sosok yang tidak pernah aku undang selalu hadir dalam keaeharianku. Debaran keras jantungku nyaris terdengar ketika aku melihatnya, walau sekilas tapi ada rasa nyaman disana. Sungguh! Aku melihat dia, ternyata hatiku benar. Si musuh bebuyutanku, kami satu sekolah. Detik berikutnya alat musik itu kutatap dengan senyuman tulus, kemudian menghasilkan nada-nada sederhana karena kumainkan. Sejujurnya, di benakku hanya ada satu hal yang menghadirkan kepercayaan diriku karena belum pernah bermain alat musik diluar mata pelajaran kesenian yaitu dia. Tanganku bergerak lincah di atas keyboard demi memadukan bunyi dari setiap hembusan nafasku. Hasilnya, tepuk tangan meriah dari para junior untukku.
Bel tanda usai jam sekolah berbunyi. Akhirnya aku bisa bernafas lega, keluar dari kelas ini. Berada dalam satu ruangan dengannya membuatku bisa grogi kapan saja. Setidaknya aku sudah berusaha memainkan alat musik itu sebaik mungkin. Setelah beberapa pemberitahuan disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah, semua siswa siswi langsung berhamburan menuju pintu gerbang. Aku melangkah santai, sekedar menghindari riuhnya sesak di pintu gerbang yang kerap terjadi. Sendiri, seperti biasa. Namun, tidak kali ini ada si Harrys ikut-ikutan berjalan di sampingku dan oh my god! Harrys bersama dia. Aku nyaris bersorak kegirangan kalau saja Harrys tidak mengajakku ngobrol.
“Tadi kamu mainnya keren banget” ujar Harrys.
“Ah, aku juga baru belajar kok, Rys” ucapku halus.
“Tapi kenapa bisa bagus gitu?”
“Belajar keras aja sih, Hehee..” jawabku sambil tertawa kecil.
“Kamu emang gitu, belajar mulu kerjaannya.”
Kami pun tertawa riang. Sedangkan sosok lelaki yang sering menghantui pikiranku itu masih saja dingin seperti biasanya. Yup! Seperti biasanya.
Lima bulan sudah aku bersamanya. Maksudku bukan berdua setiap hari, melainkan sama-sama satu sekolah. Kabar buruknya, tidak ada peningkatan sama sekali di antara kami berdua lantaran kabut kecanggungan. Dia masih sedingin biasanya dan aku masih selalu merindukan sosok ramahnya. Tuhan, mengapa engkau menganugerahkan program akselerasi kepadaku. Andai saja hal itu tidak terjadi mungkin aku masih bisa berceloteh ria sekedar jahil bersama dia seperti waktu di sekolah dasar dulu.
Aku sedang menggambar bunga-bunga indah, setelah mata pelajaran kesenian. Seolah mendapat ilham di siang yang cukup terik ini. Tanganku tak berhenti bergerak di atas kertas.
“Al, ayo ngumpul bareng adik-adik komplek. Waktunya istirahat nih.” ajakan Rysmy lumayan menyita konsentrasiku.
“Aku lagi sibuk.” jawabku.
“Yaelah! Ini anak susah banget sih diajak ke luar kelas. Gimana mau sosialisasi coba kalo kamunya di kelas terus.” tegas Ryen.
“Ayoo Al, mau yah!”
“Okelah!” ucapku seraya memasukkan perlengkapan menggambarku ke dalam tas. Sebenarnya tidak ada masalah juga kalau aku tidak ikut tapi, Ryen yang sudah seperti kakak aku sendiri pasti bakal memberi seribu satu macam penjelasan tentang bersikap baik hingga sakit kupingku mendengarnya. Dengan hati tak menentu aku berjalan mengikuti langkah Rysmy dan Ryen.
“Hai..”
“Haii.. Kak Rysmy, kak Ryen!”
Aku hanya tersenyum kecil melihat keakraban dua temanku ini dengan adik-adik kelas yang sekomplek dengan kami bertiga.
“Haii, Al” sapa Harrys.
“Hai.” balasku, ia tersenyum.
Percakapan hangat mulai terdengar. Kami semua duduk melantai di koridor utama kelas 7. Satu peningkatan luar biasa, bisa duduk bersama dia. Lelaki berkulit cokelat, tinggi, dengan rambut hitam legam dan mata teduh menyejukkan. Tuhan tapi, mengapa dia masih sedingin ini terhadapku. Perih rasanya melihat dua temanku begitu mudah akrab dengan dia. Berbeda denganku. Aku menatapnya sekilas, dia masih sama humorisnya. Sifat humor itulah yang membuat nyaman setiap orang ketika berkenalan dengannya.
“kamu tahu arti warna kan, Al?” tanya Ryen membangunkanku dari lamunan. Aku mengangguk kecil.
“Eh, kasih tahu dong!” celetuk Mondy, salah satu temannya Harrys.
“Baiklah, warna apa yang ingin kalian tahu artinya?” tanyaku seraya berdiri di hadap mereka semua.
Mataku menatap mereka satu persatu termasuk dia yang duduk paling ujung kanan. Kami bertatapan, entahlah mungkin satu atau dua detik aku segera menundukkan pandanganku. Apalagi ini, Tuhan. Aku sungguh tak mengerti mengapa setiap kali bertemu dia jantungku seakan ingin melompat pindah dari tempatnya. Kucoba menepis rasa grogi yang perlahan mulai merambati jiwa.
“Biru, artinya apa?” tanya Ryen.
“Belahan jiwa.” jawabku enteng.
“Kenapa belahan jiwa?”
“Mungkin karena biru selalu identik dengan hati seseorang yang sedang hancur karena cinta. Jadi warna biru dibikin artinya belahan jiwa biar kita nggak gampang nyakitin hati orang yang kita sayang.” jawabku. Mondy yang bertanya tampak manggut-manggut. Begitupula dengan Ryen, ia tersenyum lebar.
“Biru itu warna favoritku. Ternyata maknanya menyentuh sekali.” ucapnya. Aku tersenyum mendengarnya.
“Ada lagi?” tanyaku lagi.
“Kalau..” ia menggantung kalimatnya, membuat jantungku makin tidak beraturan.
“Ehm.. Kuning, artinya apa?” ucapnya tenang.
“Rindu.” jawabku setenang mungkin. Kulihat dia tersenyum agak lebar, entah apa penyebabnya, gingsulnya kelihatan. Aku sungguh merindukan senyumannya itu. Terimakasih untuk hari ini Tuhan. Biarlah rasa yang tak kumengerti ini abadi di dalam hati. Biarlah rasa kagumku ini tetap utuh untuk seorang Akzen Angelo si penyuka aljabar dkk. Biarlah dia tidak menyadari kekagumanku ini, setidaknya aku masih bisa melihat senyum khas itu, mata teduh, juga rasa nyaman yang dia tebarkan. Meskipun humorisnya jarang kunikmati, berdua dengannya nyaris tak kulalui. Satu hal yang pasti aku masih disini menantimu, sampai kapanpun hingga waktu menjelaskan isi dari hati ini kepada dirimu.

aku hanya malu itu saja

Gadis itu masih tetap fokus pada buku pelajaran yang dipegangnya, belasan rumus matematika ia pelajari dan pahami sambil sesekali tersenyum dan membayangkan bagaimana bisa mencari jawaban atas soal matematika yang diberikan guru matematika sebagai Pekerjaan Rumah yang telah diberikan kepada kami.
Duduk paling depan baris pertama tepat di sebelah utara meja guru itu adalah posisi paling ia suka, jika boleh menilai dia adalah wanita seperti apa, aku akan menjawab mendekati sempurna, paras cantik rambut pirang panjang, seperti remaja pemeran FTV. Seperti itu penilaian aku.
Ameerah namanya, berbau Timur tengah memang, sapaan akrabnya adalah Mira, menjadi pujaan para pria seusia kami sudah pasti itu, banyak para siswa berprestasi dari kelas lain mengunjunginya hanya untuk bertemu dengannya dengan segudang alasan yang dibawa, mulai dari berpura pura mencari penyelesaian soal matematika, praktikum fisika, atau yang lainya.
Lalu apakah ada perasaan suka pada benak saya? sejujurnya Iya, kalau perasaan cinta? Tegas Aku katakan Tidak!!! Mengapa? Karena menurutku bicara cinta adalah bicara pantas atau tidak, dan menurutku aku memang tidak pantas untuknya, bahkan sekedar menjadi daftar antrian cintanya saja sangat sangat tidak pantas.
Mari kita beranjak ke sosok pria yang duduk di sudut belakang kelas yang sedang melantukan lagu iwan fals dengan nada yang memang kebetulan juga fals, Indra namanya. Berprestasikah dia? sepertinya tidak, dari posisi duduk yang ia tempati saja sudah bisa terbaca apakah dia cerdas atau tidak, Dan itu adalah AKU!
Dia duduk sendiri di sudut kelas, karena memang kebetulan jumlah siswa adalah ganjil sehingga ia tidak memiliki rekan sebangku, atau memang kebetulan tidak ada siswa yang mau bergaul dengannya, pria ini terkenal dengan jumlah absen tidak masuk terbanyak di kelasnya, tinggal kelas adalah ancaman guru guru kepadanya setiap berjumpa, dalam pelajaran matematika dia selalu meninggalkan jam tersebut atau CABUT PELAJARAN bahasa kerennya.
Lanjut ke ulangan matematika, hari ini jam terakhir adalah ulangan matematika bab 5 mengenai bilangan berpangkat dan bentuk akar, aku sudah berencana untuk tidak mengikuti ulangan tersebut dengan cabut pelajaran pada jam terakhir dan sekarang adalah jam ketiga dimana pada pukul sebelas nanti jika bel berbunyi menandakan apakah aku harus mengikuti ulangan tersebut atau tidak, jantung makin berdebar kencang karena sekarang adalah pukul sebelas kurang 5 menit.
Dan pada akhirnya bel berbunyi juga, sambil menunggu guru pelajaran bahasa keluar dari kelas aku sudah mengambil ancang ancang untuk cabut kelas dan menuju ke kantin belakang, guru sudah meninggalkan ruangan, saatnya aku melancarkan aksiku, aku bergegas menuju ke luar kelas, namun langkahku terhenti ketika kaki kananku hendak melangkah ke depan pintu kelas, ada sosok wanita mengahalangi langkahku dengan meregangkan tangan sambil menutup pintu kelas dengan kedua tangannya, “Eiiitt Mau kemana?” ucapnya dengan wajah yang agak jutek dan menyuruhku kembali ke mejaku, “Apaan sih ki!” jawabku dengan nada yang datar. “Balik sana!!” ucapnya kembali “awas akh!!” jawabku padanya, “udah duduk sana… cepet gak!!!” kembali jawab Mira kepadaku.
Akhirnya aku duduk kembali ke mejaku, entah harus berbuat apa karena aku benar benar binguung untuk menghadapi ulangan matematika, dari kejauhan zakiyah menghampiriku membawa tasnya dan duduk di sampingku, semua mata tertuju kepada kami, Dan Mira Berucap “Aku duduk disini ya ganteng” sambil memegang daguku, kontan saja mukaku merah padam dan malu entah harus berkata apa, aku hanya terdiam melihat tatapan teman teman kelas yang seakan tidak senang dengan kejadian itu.
Lembar ulangan dibagikan, seperti pada ulangan sebelum sebelumnya untuk soal ulangan pasti berbeda antara kiri dan kanan, dan hal itu sudah biasa bagiku, aku menulis namaku pada soal ujianku, setelah itu aku diamkan soal ulangan itu, sementara Mira sibuk mengerjakan ulangan itu tanpa menengok sedikitpun ke arahku, makin frustasi aku dengan keadaan itu akhirnya aku putuskan untuk izin ke toilet sebentar, aku ke luar dan aku belok ke arah kantin, di kantin aku ngobrol dengan mang iwan penjual es jeruk, seperti sudah tau aku bolos pelajaran dia menyiapkan es jeruk dan kue basah aku habiskan kue dan minuman itu, dan ketika akan membayar mang iwan bilang khusus hari ini gratis buat aku.
Aku kembali ke kelas, Mira memandangku dengan senyum yang tidak wajar senyum terlalu manis menurutku, aku duduk kembali di sebelahnya, aku lihat kertas ujianku sudah terisi penuh dengan jawaban yang tidak terlewat satu pun, lantas di balik kertas jawaban tersebut terdapat Tulisan dengan pensil bertuliskan “Mengapa kamu tidak mengatakanya padaku bahwa kamu suka aku” dengan jantung berdebar, dan keringat dingin yang terlihat seperti kristal dari keningku dan mata yang sedikit buram aku melihat dia dengan senyuman yang begitu tulus seakan memaksa menjawab MENGAPA? mengapa kamu tidak mengatakannya? lalu aku mengambil kertas soal ulangannya dan menuliskannya “Aku hanya MA/L/U itu saja”

sampai ujung penantianku

Perjalananku terkesan rumit, kebanyakan orang selalu memanggilku si ratu bahagia. Sebab aku tidak pernah bersedih, akan tetapi sebenarnya mereka selalu salah disetiap senyumanku terselip luka yang terasa perih. Aku tidak ingin orang lain selalu mengkhawatirkanku. Namaku As-syifa Putri Salsabila. Orang-orang biasa memanggilku Syifa. Aku nampak lugu dan polos di mata teman-temanku. Namun aku anaknya pelupa dan ceroboh.
“Syif, nanti pulang bareng yuk, ada hal yang ingin aku kasih tahu ke kamu” kejut Nadia di belakangku.
“Boleh, memangnya kamu mau ngomongin apa kok terlihat serius?” jawabku penasaran
“Emm, udah ada pokoknya.” sahut Nadia lagi
Nadia memang sahabatku sejak kecil dan aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Rumah kita juga kebetulan berdekatan. Dialah yang selalu membuatku lebih bahagia. Dia juga selalu saja baik denganku. Kami selalu berbagi masalah bersama, hanya kami berdua.
Aku masih heran apa yang akan Nadia katakan. Terlihat begitu serius, hal ini membuatku agak sedikit grogi. Setelah bel pulang berbunyi Nadia langsung menarik tanganku untuk segera pulang.
“Eh, Syifa kemarin aku lihat Raka seperti mengikuti kamu, apa kalian ada hubungan spesial?” kata Nadia sambil melihatku serius
“Ah mana mungkin, mungkin kamu hanya salah lihat saja Nad,” jawabku agak ragu
“Eh kamu Syif, nggak percayaan sama aku, aku sering kok lihat Raka mengikuti kamu bahkan hampir setiap hari, apa jangan-jangan?” terus Nadia
“Jangan-jangan apa, Ah sudah lupakan,” jawabku ketus
Memang Raka adalah teman sekelasku. Dia memang baik padaku. Tapi mana mungkin dia menyukaiku. Dia kan orangnya tidak pernah yang namanya berhubungan dengan cinta. Dia selalu baik pada orang lain juga. Memang tidak aneh itu. Aku masih merenungkan perkataan Nadia tadi padaku.
Memang dia pernah menolongku ketika hampir saja aku terkena runtuhan fondasi rumah seminggu yang lalu. Untung saja ada dia, kalau tidak mana mungkin sekarang aku bisa bernafas bebas disini. Aku pikir itu hanya kebetulan, memang akhir-akhir ini hatiku masih nampak kagum padanya. Tapi itu hanya perasaan saja, mana mungkin dia mempunyai perasaan yang sama terhadapku.
Siang itu suasana kelas masihlah ricuh, aku yang baru saja kembali dari kantin merasa sedikit terganggu oleh tingkah teman-temanku itu. Aku pandangi Raka di sudut kelas, dia nampak sedang tidak bersemangat dan lesu tidak seperti biasa yang selalu ceria. Lalu aku duduk di kursiku bersama Nadia yang duduk di sampingku.
Lalu aku tidak menyangka jika ada surat di mejaku. Dengan cepat aku memasukkannya ke dalam tasku. Nadia nampak memandangi keanehanku ini, namun dengan segera aku mengajaknya bicara agar cepat-cepat ia melupakan hal itu.
Sesampainya di rumah aku membaca dengan cermat surat itu. Jantungku seketika berdegup kencang. Aku mulai penasaran surat apa ini, dan dari siapa surat ini berasal. Akhirnya aku buka dan ternyata itu dari Raka.
“Mungkin akan nampak memalukan bagiku, namun aku tak menghiraukannya. Selama ini aku memendam perasaan terhadapmu. Aku selalu mengikutimu untuk memastikan kamu aman sampai di rumah. Mungkin ini semua nampak aneh bagimu, aku mengagumimu semenjak pertama kita bertemu. Kamu mungkin nampak berbeda dari teman yang lain. Hal itu yang membuatmu unik.
Surat ini mungkin terlambat kuberikan untukmu. Sebab mungkin besok aku sudah tidak bisa melihatmu lagi. Sebab aku harus pindah sekolah mengikuti ayahku yang dipindahkan tugas ke luar kota. Semoga dengan surat ini kamu tahu semua apa yang aku rasakan selama ini. Jika kamu memiliki perasaan yang sama dan kita ditakdirkan untuk bersama mungkin aku akan kembali. Kembali untuk melihatmu lagi.
Raka
Tercengang aku membaca surat dari Raka itu. Nampaknya dia juga memendam perasaaan yang sama denganku. Aku tidak menyangka itu. Memang benar keesokan hari Raka sudah tidak ada di sekolah lagi dan benar-benar pindah. Mungkin jika aku dan Raka ditakdirkan utuk bersama mungkin kita bisa dipertemukan lagi. Dan aku berharap memanglah dia orangnya. Aku akan menunggu sampai tiba waktu itu.
Cerpen Karangan: Amanda Novitasari
Blog / Facebook: amandanov.blogspot / amanda novitasari
Kelas XI MIA,
saya baru belajar untuk menulis cerpen semoga pembaca dapat terhibur, sebelumnya saya minta maaf karena penyusunan kata yang masih acak-acakan karena saya baru belajar,